Wednesday, February 25, 2015

Wafatnya Ulama Munculnya Golongan Bodoh

Baru-baru ini seluruh umat Islam di bumi Nusantara amnya dan di Kelantan khususnya dilanda kesedihan kerana meninggalnya satu-satunya ulama dan juga umarak iaitu Allahyarham Tuan Guru Nik Aziz bin Nik Mat. Beliau dipanggil mengadap Ilahi setelah menghabiskan masa hidupnya menegakkan agama Allah menempuh segala halangan dengan sabar dan menyebarkan ilmu Supaya masyarakat kembali kepada ajaran Islam yang sebenar. Walaupun ada pepatah melayu mengatakan patah tumbuh hilang berganti, kehilangan tokoh ulamak TGNA ini tiada galang gantinya.
Walaupun begitu kita sepatutnya bersyukur kerana bumi bertuah ini masih lagi mempunyai ulama yang diiktiraf oleh ulama sedunia iaitu Tuan Guru Hj Abd Hadi bin Awang. Dengan perginya TGNA beliau seolah-olah berjuang keseorangan dalam menegakkan syariat Islam apabila mendapat tentangan golongan bodoh dari kalangan pemimpin yang dipercayainya selama ini. Golongan yang bodoh ini muncul apabila membelakangkan ulama dalam jemaah Islam tetapi mengambil kesetiaan terhadap penentang syariat Islam. 

Munculnya golongan bodoh setelah wafatnya ulama dan ulama yang tersisa berada dalam kumpulan sedikit adalah merupakan tanda-tanda hari kiamat yang diriwayatkan dalam beberapa hadis berikut.

Dalam Ash-Shahiihain, dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : 

من أشراط الساعة أن يُرْفَعَ العلم، ويَثْبُتَ الجهلُ.

Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan”.[1]

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiiq, ia berkata : “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa. Mereka berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

إن بين يدي الساعة لأيَّاماً يُنزَلُ فيها الجهلُ، ويُرْفَعُ العلم.

Sesungguhnya menjelang hari kiamat kelak, akan ada hari-hari yang diturunkanya kebodohan dan diangkatnya ilmu”.[2]

Berkata Ibnu Baththaal rahimahullah :

وجميع ما تضمَّنَهُ هذا الحديث من الأشراط قد رأيناها، فقد نقص العلم، وظهر الجهل، وأُلْقِي الشحّ في القلوب، وعمّت الفتن، وكثرَ القتل.

Seluruh tanda-tanda tentang hari kiamat yang terdapat dalam hadits ini telah kita lihat. Sungguh, ilmu telah berkurang, kebodohan merajalela, sifat kikir telah dijatuhkan/dijangkitkan dalam hati (manusia), firnah telah tersebarnya, dan pembunuhan banyak terjadi”.[3]

Ibnu Hajar mengulas hal itu dengan berkata :

الذي يظهر أن الذي شاهده كان منه الكثير، مع وجود مقابله، والمراد من الحديث استحكام ذلك، حتى لا يبقى مما يقابله إلا النادر، وإليه الإشارة بالتعبير يقبض العلم، فلا يبقى إلا الجهل الصرف، ولا يمنع من ذلك وجودُ طائفة من أهل العلم، لأنهم يكونون حينئذ مغمورين في أولئك.

Yang nampak, tanda-tanda hari kiamat yang disaksikannya itu memang sudah banyak terjadi, bersamaan dengan adanya realiti yang sebaliknya. Dan yang dimaksud oleh hadits adalah dominannya hal-hal tersebut sehingga tidak tersisa hal yang tidak seperti itu melainkan sedikit. Inilah yang diisyaratkan oleh hadits dengan ungkapan : ‘diangkatnya ilmu’; tidaklah tinggal/tersisa kecuali hanyalah kebodohan. Namun hal itu tidaklah menghalangi untuk tetap adanya sekelompok ahli ilmu (ulama) di tengah umat, karena pada waktu itu mereka tertutup oleh dominasi masyarakat yang bodoh akan ilmu agama”.[4]
Diangkatnya ilmu terjadi dengan diangkatnya (diwafatkannya) para ulama, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله لا يَقْبِضُ العلمَ انتزاعاً ينتزعُه من العباد، ولكنْ يقبِضُ العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبقَ عالماً؛ اتَّخذ الناس رؤوساًَ جُهَّالا، فسُئِلوا ؟ فأفتوا بغير العلم، فضلّوا وأضلوا.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”.[5]

An-Nawawiy berkata :

هذا الحديث يُبَيِّنُ أن المراد بقبض العلم في الأحاديث السابقة المطلقة ليس هو محوُه من صدور حفَّاظه، ولكن معناه : أن يموتَ حملتُه، ويتخذ الناس جُهَّالا يحكمون بجهالاتهم، فيضلُّون ويُضِلُّون.

Hadits ini memberikan penjelasan akan maksud ‘diangkatnya ilmu’ - sebagaimana tertera dalam hadits-hadits secara mutlak – bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya. Namun maknanya adalah : wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian mengambil orang-orang bodoh yang menghukumi sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.[6]

Dan yang dimaksud dengan ‘ilmu’ di sini adalah ilmu mengenai Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, yang itu merupakan ilmu warisan para nabi ‘alaihis-salaam. Dan ulama adalah pewaris para nabi. Oleh karena itu, kepergian mereka sama dengan perginya ilmu, matinya sunnah, berkembangnya bid’ah, dan meratanya kebodohan.

Adapun ilmu keduniaan, maka itu merupakan tambahan. Bukanlah ia yang dimaksud dalam hadits-hadits, dengan alasan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”. Kesesatan hanyalah terjadi karena kebodohan dalam agama. Dan ulama yang hakiki adalah ulama yang mengamalkan ilmu-ilmu mereka, mengarahkan dan menunjukkan umat ke jalan lurus dan petunjuk. Ilmu tanpa disertai amalan tidaklah banyak bermanfaat. Bahkan dapat menjadi bencana bagi pemiliknya. Telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan lafadh :

وينقص العمل

Dan amal pun berkurang”.[7]

Berkata Al-Imam Muarrikh (ahli sejarah) Islam Adz-Dzahabi setelah menyebutkan sekelompok ulama : 

وما أوتوا من العلم إلا قليلاً، وأما اليوم؛ فما بقي من العلوم القليلة إلا القليل، في أناس قليل، ما أقل مَن يعمل منهم بذلك القليل، فحسبنا الله ونعم الوكيل.

Tidaklah mereka diberikan ilmu melainkan sedikit. Adapun hari ini, tidaklah tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit tersebut melainkan lebih sedikit lagi di tangan orang-orang yang jumlahnya sedikit pula. Dan betapa sedikit lagi orang-orang yang beramal dengan ilmu mereka yang sedikit itu. Hasbunallaahwani’mal-wakiil (Semoga Allah mencukupkan kita, dan Dia-lah sebaik-baik Pelindung)". [8]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Shahih Al-BukhariyKitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli (1/178 – bersama Fathul-Baariy) dan Shahih MuslimKitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli wal-Fitan fii Aakhiriz-Zamaan (16/222 – bersama Syarh An-Nawawiy).
[2] Shahih Al-Bukhari, Kitaabul-Fitan, Baab Dhuhuuril-Fitan (13/13 – bersama Fathul-Baariy).
[3] Fathul-Baariy (13/16).
[4] Fathul-Baariy (13/16).
[5] Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Kaifa Yaqbidlul-‘Ilm (1/194 – bersama Fathul-Bariy), dan Shahih Muslim, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli wal-Fitan(16/223-224 – bersama Syarh An-Nawawiy). 
[6] Syarhun-Nawawiy li-Shahih Muslim (16/223-224).
[7] Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-Adab, Baab Husnil-Khuluq was-Sakhaa’ wa Maa Yakrahu minal-Bukhl (10/456 – bersama Fathul-Baariy).

Thursday, November 27, 2014

20 Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat

20 rumah tidak dimasuki malaikat
Dalam sejumlah hadits, Rasulullah mensabdakan adanya rumah-rumah tertentu yang tidak dimasuki Malaikat. Tentu maksudnya adalah malaikat rahmat. Sedangkan malaikat maut, ia bisa masuk rumah dan gedung apapun, tanpa bisa dicegah.

Rumah-rumah bagaimana yang tidak dimasuki oleh Malaikat rahmat? Mari kita simak hadits-haditsnya berikut ini:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ تَمَاثِيلَ
Aku (Abu Thalhah) mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing dan (atau) gambar patung”. (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ
Dari Abu Thalhah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.” (HR. Muslim)

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَلَائِكَةُ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلَا كَلْبٌ وَلَا جُنُبٌ
Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Malaikat tidak masuk rumah yang padanya terdapat gambar dan anjing serta orang yang junub.” (HR. An Nasa’i, dishahihkan Al Albani)

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ
Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani)

Jadi, menurut hadits-hadits di atas, ada sejumlah rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat yaitu:
1. Rumah yang di dalamnya terdapat gambar/lukisan makhluk bernyawa
2. Rumah yang di dalamnya ada anjing. Menurut Imam Qurtubi, para ulama berbeda pendapat mengenai sebabnya, diantaranya karena anjing itu najis.
3. Rumah yang penghuninya junub. Maksudnya, membiasakan diri tidak mandi/bersuci dari junub.
4. Rumah yang di dalamnya ada patung.

Selain 4 rumah tersebut, Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad dalam buku Rumah yang Tidak Dimasuki oleh Malaikat menambahkan 16 rumah lainnya yang tidak dimasuki Malaikat sebagai berikut:

1. Rumah orang yang memutuskan silaturahim,
2. Rumah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya
3. Rumah orang yang memakan harta anak yatim,
4. Rumah orang yang memakan riba.,
5. Rumah yang di dalamnya tidak disebutkan Asma Allah,
6. Rumah yang tidak ada shalawat di dalamnya dan lebih mementingkan hawa nafsu,
7. Rumah yang di dalamnya banyak caci maki dan laknat,
8. Rumah yang di dalamnya ada alunan lagu selain dzikir,
9. Rumah yang di dalamnya ada lonceng,
10. Rumah yang digunakan minum khamr,
11. Rumah yang ditempati perjudian dan sajian berhala ,
12. Rumah yang di dalamnya ada syirik dan mantera-mantera,
13. Rumah yang di dalamnya ada bau tidak sedap atau penghuni laki-lakinya melumuri tubuh dengan kunyit,
14. Rumah yang penghuninya hidup boros,
15. Rumah yang penghuninya terus menerus melakukan kedurhakaan,
16. Rumah yang digunakan untuk kekejian, atau dosa besar.

Semoga kita dapat mengelola rumah kita sehingga tidak termasuk dalam 20 rumah tersebut. Dan semoga Malaikat rahmat suka masuk ke rumah kita untuk menyampaikan rahmat Allah kepada kita dan keluarga. [Keluargacinta.com - BedaMedia Grup]

Saturday, November 1, 2014

SIKAYA YANG ‘DIMISKINKAN’ OLEH HARTANYA

Sumber: http://genta-rasa.com/2013/08/27/sikaya-yang-dimiskinkan-oleh-hartanya/#more-2630

Percaya tidak, acap kali apabila harta bertambah, kita  seolah-olah rasa bertambah ‘miskin’. Apabila mendapat bonus atau naik gaji misalnya, tiba-tiba semakin banyak yang kita inginkan. Kita merancang untuk membeli kereta baru, menukar perabot baru dan lain-lain. Keinginan kita menjadi semakin besar dan  bertambah.

Akhirnya duit yang bertambah menjadi susut akibat keinginan yang meningkat. Sungguhnya, orang yang miskin, bukan kerana kekurangan harta tetapi mereka yang banyak keinginan! Itulah akibatnya apabila bukan iman yang mengendalikan hidup kita.

Diri kita akan hilang kendali seumpama kereta hilang brek dan tiada kawalan. Kita masih mencari dan terus mencari kemewahan dunia sedangkan usia sebenar semakin singkat dan pertemuan kita dengan Allah semakin dekat. Hati kita tidak pernah kita gilap sebab kita masih ghairah memburu harta yang tidak ada kesudahan dan penghujungnya. Tidak salah memburu harta… burulah. Namun ingat, itu cuba alat, bukan matlamat.

Berhati-hatilah menjaga hati. Jangan pemburuan yang dahsyat itu sampai menjejaskan kesihatan hati kita. Jika dapat, bersyukur. Jika gagal, bersabar. Jangan sekali-kali, apabila harta bertambah, kita jadi semakin kufur dan takabbur. Jangan juga apabila gagal memilikinya, kita rasa putus asa dan kecewa. Sungguh, kufur, takabbur, putus asa dan kecewa itulah parasit yang akan menghilangkan ketenangan di dunia dan akhirat.

Dalam pengalaman hidup kita tentu pernah melihat penghuni rumah besar tetapi hatinya sempit. Air mukanya muram, mudah marah dan pantang terusik… mudah marah dan melenting. Apabila kita bertamu di rumah, layanannya layu dan kemesraan dibuat-buat. Dia sentiasa memonopoli perbualan. Makan dan minum yang dihidangkan, bukan dari hatinya. Semuanya kaku oleh basa-basi yang dicorakkan adat dan kebiasaan semat-mata. Ironinya, sikaya kehilangan ‘sentuhan kemanusiaan’  di rumahnya yang lapang, akibat jiwanya yang  terhimpit. Namun, lihat  betapa ada simiskin yang begitu ceria melayan kita. Rumahnya sempit tetapi ahli keluarganya mempunyai hati yang lapang. Dengan penuh senyuman, kemesraan dan kasih sayang yang sudah serasi dengan jiwanya itulah dia melayan kita. Dia tidak mengajak orang kagum dengan rumah besar yang tidak dimilikinya, tetapi sebaliknya dia ‘membesarkan’ jiwa   dan hati tetamu yang sedang diraikannya. Di rumah yang kecil, terasa luas apabila penghuninya punya ketenangan.

Jiwa kita akan disapa ketenangan oleh tuan rumah yang punya ketenangan. Dia mungkin tidak punya harta, tetapi kaya ilmu dan akhlak. Sikapnya yang sangat suka memberi menyebabkan kita terhibur. Dia memberi senyuman, nasihat, doa dan kata-kata yang mesra. Sungguh, yang baik akan sentiasa kelihatan cantik!

Betapa kita pernah mendengar keluhan, dulu tangan-tangan sering berjabat salam, solat berjemaah dan zikrullah sentiasa bergetar di dalam rumah yang sederhana tetapi apabila rumah bertambah luas, harta bertambah, perabot sudah bertukar dengan yang mahal-mahal… solat jemaah, bacaan Al Quran dan jabat salam yang dulunya menjadi basahan, kini sudah semakin kurang kedengaran dan segala-galanya menjadi semakin tawar dan longgar. Benarlah sabda Nabi Muhammad SAW bahaya kaya hati alah kaya sebenar, bukan kaya harta.

Orang yang memiliki hati yang begitu, cukup dengan yang sedikit, pemurah dengan yang banyak. Para sahabat Rasulullah ada yang dipuji kemurahan hatinya walaupun miskin hartanya. Sehingga apabila tetamu datang, dikecilkan cahaya lampu rumahnya agar tetamu dapat makan dengan secukupnya sedangkan dia dan ahli keluarga pura-pura sama memakan makanan yang sedikit itu di dalam cahaya yang samar-samar. Sebaliknya sikaya yang kaya harta tetapi miskin jiwa itu sentiasa rasa tidak puas sehingga tega menindas.

Hartanya sudah lebih dari cukup, tetapi dia terus memeras keringat orang lain untuk menjadi lebih kaya. Jika dia memberi, dia memberi dengan muslihat untuk mendapat lebih banyak. Kalau dulu dia punya masa untuk sahabat dan saudara, tetapi kini dia diburu kesibukan yang tidak sudah-sudah… Dulu harta yang cukup, sekarang hartanya tidak cukup-cukup. Tanpa sedar, sikaya yang sedemikian sedang menyusuri jalan Qarun. Jika Qarun ditenggelamkan dalam Laut Mati… tetapi pengikut-pengikut Qarun akan ditenggelamkan dalam hati yang mati.

Hati yang mati sentiasa diburu kesedihan dan ketakutan. Sedih kerana ditinggalkan saudara, sahabat malah oleh anak-anak dan isteri sendiri. Apa tidaknya, siapa yang suka berdamping dengan orang yang sentiasa sibuk, fikirannya sentiasa di tempat lain dan jiwanya yang sentiasa bimbang dan gelisah? Dunia moden menamakan mereka orang yang produktif, tetapi hakikatnya mereka orang yang sakit! Sungguh, alangkah azabnya punya hati yang sedemikian. Hati yang hilang rasa ingin membantu orang lain, hati yang sukar untuk empati kepada kesusahan orang sekeliling, hati yang sudah hilang nikmat persaudaraan dan persahabatan.

Orang yang cuba menukar kualiti jiwa dengan kuantiti harta pasti menderita. Dari Anas bin Malik r.a diriwayatkan Rasulullah SAW pernah bersabda:” Anak Adam yang telah pikun (nyanyuk) dan masih menginginkan dua hal; menginginkan harta dan menginginkan panjang usia.” (riwayat Muslim).
Lihat diri kita dan lihat manusia di sekeliling kita… betapa ramai sahabat, saudara, pemimpin, ahli agama dan ahli keluarga malah diri kita sendiri yang telah berubah apabila harta dan wang semakin bertambah. Marilah kita ingatkan kepada mereka dan kita yang sudah lupa, keinginan terhadap harta adalah dahaga yang tidak pernah sirna!

Followers